Lagi, terjadi tindak kekerasan Oleh Oknum Polisi terhadap wartawan

INDONESIASATU.CO.ID:

Kuala Simpang-Warta Bhayangkara : Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), mendampingi wartawan Muhammad Irwan korban penganiayaan warga Desa Dalam, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, dalam kasus penganiayaan yang dilakukan oleh oknum Polisi, ke Polres Aceh Tamiang pada Sabtu 02 Juni 2018.

Dihadapan Kuasa Hukumnya, Muhammad Zubir SH, Muzakir SH, Basri dan Samsol Bahri, korban Muhammad Irwan, mengaku, insiden penganiayaan itu terjadi pada tanggal 28 Mai 2018 malam, pukul 22.00 WIB, bertempat di Jalan Sriwijaya kota Kuala Simpang, tepatnya di minuran kecamatan kejuruan muda didepan kantor PDIP “Irwan saat itu sedang melaksanakan tugas profesi wartawan yaitu sedang melakukan investigasi penyaluran minyak mentah ilegal dari Ranto Perlak.

“Pada saat korban sedang melintasi jalan sriwijaya kota Kuala Simpang, korban Muhammad Irwan, yang di temani oleh temanya Sulaiman (21Thn), lalu Korban menyetop mobil L300 Pick up, tidak jauh dari polsek kota Kuala Simpang, setelah mobil Tersebut berhenti, irwan mempakirkan kereta, mobil tersebut kembali lari, Saat mau diwawancarai irwan mengatakan “pak mohon ijin dari mana mau kemana”kata korban, supir menjawab “dari Langsa mau ke Sumatera Utara”kata supir, irwan kembali bertanya “kalau saya boleh tau bapak membawa minyak apa”tanya irwan, supir menjawab “saya membawa minyak konden dari Langsa mau ke Sumatera Utara”kata supir sambil megang Hp, korban kembali meminta ijin untuk naik ke atas melihat minyak yang dibawa berapa banyak dan mau difoto, supir pun mengijinkan, saat irwan mau naik keatas untuk ambil bukti Dokumentasi.

Muhammad Zubir SH, selaku kuasa hukum korban saat diwawancarai Media terkait hal tersebut, mengungkapkan, pihaknya sudah melaporkan Tindak Pidana Penganiayaan (TPP), ke SPKT Polres Aceh Tamiang kemarin, Sabtu (02/6/2018) dengan Nomor Laporan (LP). STBL/38/V/2018/SPKT. Selanjutnya, Besok Senin kemarin 4 mei 2018 juga akan laporkan secara Etik ke Propam Polres Aceh Tamiang, Jadi dua Laporan yang kita buat ke Polres Aceh Tamiang, dengan kasus yang sama. Atas laporan tersebut, Zubir berharap kepada pihak penegak hukum, supaya pelaku dapat di diproses secara hukum yang berlaku di Negara ini, tidak pandang siapa pelakunya, agar menjadi pelajaran untuk kita semua bahwa setiap pelaku kejahatan tidak ada yang kebal hukum, artinya setiap pelaku kriminal akan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan kejahatan yang ia lakukan.

“Begitu juga dengan Laporan ke Propam, agar dapat di tindak sesuai etika yang berlaku di konsitisi tersebut. Kita mengharapkan agar semua dapat di Proses secara profesional, agar menjadi pembelajaran bagi kepolisian dalam bertugas, tidak terkesan asal-asalan, memukul dan menganiaya masyarakat seenaknya saja, pungkas Zubir.

Muhammad Irwan salah seorang Wartawan Online warta bhayangkara wilayah kerja di Kabupaten Aceh Tamiang Provinsi Aceh yang di duga dianianya oleh oknum Polisi Segera melaporkan kepada Propram Polda Aceh karena menurutnya sudah beberapa Polsek di Kuala Simpang Aceh Tamiang tidak diterima laporan nya Kawan kawan Media baik yang di Aceh Tamiang maupun Banda Aceh dan Jakarta mendesak dirinya segera laporkan ke Propram kasus ini jangan sampai terulang lagi terhadap Wartawan.

Seperti kita ketahui banyak media memberitakan Sekira pukul 22.00 WIB Senin malam (28/5/2018)wartawan online Warta Bhayangkara Muhammad Irwan (22 tahun) didampingi temannya Sulaiman (21 tahun) melakukan peliputan atas dugaan bisnis bahan bakar minyak ilegal yang diangkut dengan mobil pick up Chevrolet. Ketika melintas di jalan Medan Banda Aceh Kampung Minuran Kecamatan Kuala Simpang, Muhammad Iwan menyetop mobil diduga mengangkut minyak ilegal.

“Saya bertugas sebagai Kepala biro Media Online Warta Bhayangkara di Aceh Tamiang, sudah lama saya mencurigai terhadap maraknya bisnis BBM ilegal pasca terbakarnya sumur minyak di Aceh Timur, maka salah satu target peliputan saya terhadap truck dan mobil yang dicurigai mengangkut BBM ilegal, pas kebetulan lewat mobil pick up Chevrolet langsung saya ikuti dan saya stop, TKP nya di kampung Minuran Kuala Simpang, Sopirnya mengakui bahwa dalam mobil angkutannya berisi BBM ilegal.

Muhammad Irwan menambahkan bahwa setiba di polsek yang berjarak sekira 1 kilometer dari TKP. Oknum yang mengaku polisi yang berteriak ada oknum wartawan sudah jadi tersangka, dan segerombolan orang diduga para oknum Polisi mencekik dengan cara memiting leher dan beberapa orang lainnya memegang tangan dan dibawa ke dalam polsek, memukuli dada dan bagian perut Muhammad Irwan. Setelah memasuki ruangan Polsek, Muhammad Irwan dan Sulaiman di interogasi secara terpisah oleh kelompok orang–orang yang mengaku Polisi. Sulaiman juga mendapat perlakuan jahat dan kasar secara premanisme oleh gerombolan yang diduga oknum Polisi. ”Sopir pembawa BBM ilegal turut hadir ke Polsek malam kejadian itu juga, dan sekarang saya tidak tahu kemana barang bukti dugaan BBM Ilegal serta mobil pengangkut.

Barang bukti dan supir beserta mobilnya langsung dilepaskan. Ketika di Kantor Polsek saya diperlakukan seperti teroris, oknum yang mengaku polisi menghina profesi wartawan dan melontarkan kata-kata bahwa kamu tidak ada apa-apanya, karena keluarga saya adalah Tentara semua, sambil memukul dada dengan nada melotot dan dengan nada keras, oknum yang menggiring ke polsek mengaku anggota. Saya sangat bingung dengan situasi ini, Ketika kami menjalankan fungsi sosial kontrol ada oknum yang mengaku polisi melarang, dan berbuat brutal Kepada saya,  “ungkap M.irwan kepada wartawan tambahnya lagi ada apa dengan bisnis BBM ilegal, apakah ada oknum polisi yang terlibat? tanya Muhammad Irwan. Sebelum dilepas dari tindakan penganiayaan oleh gerombolan yang mengaku polisi, kami berdua sempat dibawa keliling dengan mobil patroli Resmob dan ditraktir makanan dan minuman di warung tanah terban, selanjutnya sekitar pukul 01.00 WIB Selasa (29/5/2018)saya kembali ke Polsek dan diultimatum agar tindak kekerasan dan perbuatan menghalangi jurnalis melakukan peliputan tidak berkembang kemana-mana, ungkap Muhammad Irwan meniru perkataan oknum polisi.

Kuli Tinta ini akhirnya terbaring opname di RSUD Aceh Tamiang, selama dua hari, 28 mei s/d 30 mei 2018, bagian leher sakit dan sulit digerakkan diduga akibat dipiting oknum Polisi dan bagian perut serta dada sakit akibat dipukuli di kantor Polsek. “Saya akan serahkan perkara ini kepada kuasa hukum untuk membuat pengaduan dan keadilan hukum sesuai peraturan perundang undangan yang berlaku, ujar, Muhammad Irwan.

  • Whatsapp

Index Berita